Pagi itu Pak Bambang duduk di teras, menunggu
anaknya untuk berangkat sekolah dan pergi ke kantor. Pak Bambang adalah salah
satu pengusaha terkenal di kotanya. Dia mempunyai anak yang bernama Rangga yang
bersekolah di SMP Pelita 1 kelas delapan.
“Koran.. koran..” terdengar suara dari balik gerbang,
seperti biasanya.
Tak berapa lama Bi Minah membukakan pintu gerbang dan mengambil koran.
Pak Bambang meminta Koran itu lalu membaca-bacanya. “Rangga cepat nanti
terlambat” kata Pak Bambang. “Iya Pa sebentar lagi” Jawab Rangga dengan santai.
Setelah beberapa lama Pak Bambang membaca-baca
koran, Rangga pun keluar dengan mulut penuh, berisi roti sarapannya. Rangga
memang anak yang malas, di sekolahpun dia bukan termasuk anak yang pintar,
rankingnya pun hanya ranking lima besar dari belakang.
“Ayo cepat Rangga, Papa ada rapat pagi ini” ujar Papa.
Merekapun segera menuju ke mobil, di mobil Rangga malah asyik membaca
komik barunya.
“Daripada baca komik, mending baca buku pelajaran” usul Papanya.
“Tadi malam udah belajar kok, Pa” jawab Rangga enteng.
Lima menit kemudian mereka sudah sampai di sekolah,
seperti biasanya Rangga terlambat lagi. Rangga cepat-cepat lari menuju ke
kelasnya.
Sampai di kelas ia segera mengetuk pintu.
“Maaf Pak, terlambat” ucap Rangga.
“Kamu terlambat lagi Rangga! untuk kali ini bapak tidak menghukum kamu”
kata Pak Sutris yang mengajar IPA Fisika di sekolahya.
“Terimakasih, Pak” kata Rangga. Lalu duduk di tempat duduknya.
Ternyata pagi itu akan diadakan ulangan. Mendengar itu seluruh kelas
gaduh, Rangga sibuk membuka-buka dan membaca rumus-rumus namun rumus-rumus itu
hanya berputar-putar di kepalanya.
“Keluarkan kertas, beri nama, nomor, dan kelas” kata Pak Sutris.
Pak Sutris kemudian membagikan soal ulangan, setelah dua puluh menit
berlalu hanya beberapa soal yang baru di jawab oleh Rangga, ia mencoba menengok
ke teman sebelahnya, namun tidak ada jawaban yang dapat dilihatnya. Sampai
akhirnya waktu ulangan berakhir masih banyak soal yang belum dijawabnya.
Saat istirahat seperti biasa Rangga berkumpul bersam
teman-temannnya Rega dan Bima.
“Eh, kalian tadi kok enggak kasih contekan aku sih?” tanya Rangga.
“Kita tadi kan didepan, Ngga” jawab Bima.
“Mana, dilihatin Pak Sutris terus lagi” tambah Rega.
“Tapi kaliankan juga bisa nenggok kebelakang sebentar” ucak Rangga
kesal.
Mereka hanya diam, mereka sebenarnya tidak suka kalau Rangga mencontek
mereka terus.
Saat pulang Rangga di jemput oleh sopirnya, sampai
di rumah dia langsung bermain game dengan laptopnya. Hingga terdengar ketukan
pintun.
“Siapa sih ganggu aja” omelnya
“Saya mas Bi Minah, kata ibu suruh makan dulu” kata Bi Minah menjawab
“Iya bentar lagi” jawab Rangga
“Ya sudah” ucap Bi Minah
Setelah ganti baju dia segera
makan lalu tidur, malamnya setelah makan malam dia ke kamar untuk mengerjakan
PR dan belajar , tapi baru beberapa yang dikerjakan dia sudah mengantuk,
“Hoam, mengerjakan PR memang membosankan” katanya. Diapun segera tidur.
Paginya seperti biasa Papanya sudah menunggu
diteras, “Rangga cepat nanti kesiangan” kata Pak Bambang. ”Iya Pa, sebentar”
jawab Rangga.
“Koran, Koran,” terdengar suara dari pintu gerbang.
Kali ini Pak Bambang sendiri yang mengambil koran, dia terkejut karena
yang mengantar koran itu seorang anak yang seumuran dengan anaknya yang memakai
pakaian sederhana, dulu dia pernah melihat yang mengantar koran adalah orang
dewasa.
Anak itu menyapa dengan sopan, Pak Bambang menanyakan kenapa dia tidak
sekolah ternyata dia sudah 3 bulan tidakmembayar uang sekolah, dan dia sekarang
kelas delapan, namanya Kiki, prestasinyapun baik dia mendapat ranking satu.
Tiba-tiba Rangga datang. “Ayo
Pa, katanya keburu kesiangan” kata Rangga.
“Iya sebentar. Ya sudah ya Ki, bapak mau berangkat kerja dulu” kata Pak
Bambang.
Di mobil Rangga bertanya siapa anak tadi, Pak Bambang menjelaskan siapa
anak tadi.
Hari
itu hasil ulangan Fisika di bagikan. Rangga dag, dig, dug, menanti hasil
ulangannya, ternyata Rangga hanya mendapat nilai 45.
Sampai di rumah Rangga dimarahin sama Papanya. Laptop dan komik-komik
Rangga disita sampai nilai Rangga lebih baik. Malam itu dilalui Rangga dengan
belajar namun setiap kali dia membaca buku pelajaran matanya selalu mengantuk.
Paginya, Pak
Bambang bertanya dengan Bi Minah sudah berapa lama pengantar Koran itu ganti,
ternyata sudah dua mingguan.
Pak Bambang punya rencana untuk Kiki karena dia sopan, baik, dan
pintar.
“Koran,Koran,” terdengar suara seperti biasa.
“Pagi, Pak.” sapa Kiki ramah.
“Pagi juga Kiki, Ki bapak mau tanya boleh enggak?” tanya Pak Bambang.
“Boleh, bila saya bisa menjawab.” jawabnya sopan.
“Kamu tinggal dengan siapa?” tanya Pak Bambang.
“Dengan Ibu, dan adik. Ayah saya meninggal dua tahun yang lalu” jawab
Kiki.
“Kamu tinggal dimana?” tanya Pak Bambang lagi.
“Di samping jembatan Sukomangun.” jawab Kiki.
“Oh, kamu mau tidak bersekolah dengan anak saya,kalau kamu mau, kamu
maukan mengajar anak saya belajar. Kalau mau nanti sore jam 4 datanglah ke
rumah saya, akan saya kenalkan dengan anak saya.” kata Pak Bambang.
“Iya pak nanti saya fikir-fikirkan dulu, terimakasih ya Pak.” Jawab
Kiki.
“Iya, sama-sama.” jawab Pak Bambang.
Tak berapa lama Rangga datang, mereka lalu berangkat. Di perjalanan
Papa Rangga menceritakan apa yang direncanakannya mendengar itu Rangga langsung
cemberut.
Hingga istirahat Rangga masih tidak suka dengan
rencana Papanya.
“Rangga, aku pinjem komikmu yang baru ya.” tanya Rega.
“Aku dulu ya, Ngga.” kata Bima sewot.
Setelah beberapa lama mereka saling berebut, Rangga memberitahu kalau
komik-komiknya disita oleh Papanya.
merekapun akhirnya diam.
Sorenya setelah
beberapa lama Papa Rangga menunggu ternyata Kiki datang juga. dia meminta maaf
karena datang terlambat, karena harus menjual barang bekas ke pengempul.
Pak Bambang memanggil Rangga untuk berkenalan dengan Kiki. Setelah
berkenalan mereka merencanakan sekolahnya Kiki, Kiki dapat meminjam buku-buku Rangga.
Esok paginya
mereka berangkat bersama-sama, Rangga masih tidak suka dengan Kiki. namun Kiki
mencoba tetap ramah seperti biasa. Hingga pelajaran dimulai Kiki sekelas dengan
Rangga. Baru satu hari saja banyak anak-anak dikelas Rangga yang suka dengan
Kiki, banyak anak yang bilang kalau Kiki itu baik, ramah, pintar.
Sorenya setelah
istirahat, Kiki datang lagi kerumahnya membawa buku-buku pelajar untuk besok.
Mereka belajar bersama Kiki mengajari semua pelajaran layaknya seperti guru,
sebenarnya Rangga senang dengan cara Kiki menerangkan, tapi dia masih sebal
dengan Kiki. Setelah berhari-hari mereka saling bertemu Papa Rangga malah
sering memperhatikan Kiki, Rangga menjadi tidak senang. hingga akhirnya pada
suatu hari dia memberikan obat sakit perut ke minuman Kiki. Dia meminta izin
pulang pada Pak Bambang, Papa Rangga menyuruh Rangga untuk mengantarkan Kiki
bersama Pak sopir.
Kiki meminta maaf
karena mereka tidak bisa belajar bersama, dan membuat Kiki pergi ke tempat
kumuh seperti rumahnya. Sampai dirumah Rangga merasa bersalah setelah melihat
keadaan ekonomi Kiki, dia bertekad akan meminta maaf atas perbuatannya yang
telah dia lakukan selama ini.
Paginya sebelum
berangkat dia bangun pagi-pagi, dan berangkat agak pagi agar tidak berangkat
bersama Papanya, dia ingin berangkat bersama Kiki.
“Ki, aku mau minta maaf kalau selama ini aku sering jahat sama kamu,
terus aku mau bilang kalau yang ngasih obat sakit perut kemarin aku.” ucap
Rangga.
“Enggak apa-apa aku sudah maafin kamu kok, aku malah mau bilang makasih
karena udah minjemin aku buku pelajaran” jawab Kiki
“Aku juga mau bilang makasih karena udah mau ngajarin aku” jawab
Rangga.
Rangga sering berfikir mengapa aku yang tersedia semua fasilitanyas
malas-malasan, padahal di luar sana masih banyak orang yang ingin tapi terbatas
fasilitasnya.
Akhirnya mereka menjadi sahabat, dan Rangga sudah tidak malas lagi dan
prestasinya meningkat.
0 komentar:
Posting Komentar