Sabtu, 09 Juni 2012

Saat Kiki Datang

Diposting oleh Girl in the Rain di 06.01

Pagi itu Pak Bambang duduk di teras, menunggu anaknya untuk berangkat sekolah dan pergi ke kantor. Pak Bambang adalah salah satu pengusaha terkenal di kotanya. Dia mempunyai anak yang bernama Rangga yang bersekolah di SMP Pelita 1 kelas delapan.

 “Koran..  koran..” terdengar suara dari balik gerbang, seperti biasanya.
Tak berapa lama Bi Minah membukakan pintu gerbang dan mengambil koran. Pak Bambang meminta Koran itu lalu membaca-bacanya. “Rangga cepat nanti terlambat” kata Pak Bambang. “Iya Pa sebentar lagi” Jawab Rangga dengan santai.

Setelah beberapa lama Pak Bambang membaca-baca koran, Rangga pun keluar dengan mulut penuh, berisi roti sarapannya. Rangga memang anak yang malas, di sekolahpun dia bukan termasuk anak yang pintar, rankingnya pun hanya ranking lima besar dari belakang.
“Ayo cepat Rangga, Papa ada rapat pagi ini” ujar Papa.
Merekapun segera menuju ke mobil, di mobil Rangga malah asyik membaca komik barunya.
“Daripada baca komik, mending baca buku pelajaran” usul Papanya.
“Tadi malam udah belajar kok, Pa” jawab Rangga enteng.

Lima menit kemudian mereka sudah sampai di sekolah, seperti biasanya Rangga terlambat lagi. Rangga cepat-cepat lari menuju ke kelasnya.
Sampai di kelas ia segera mengetuk pintu.
“Maaf Pak, terlambat” ucap Rangga.
“Kamu terlambat lagi Rangga! untuk kali ini bapak tidak menghukum kamu” kata Pak Sutris yang mengajar IPA Fisika di sekolahya.
“Terimakasih, Pak” kata Rangga. Lalu duduk di tempat duduknya.
Ternyata pagi itu akan diadakan ulangan. Mendengar itu seluruh kelas gaduh, Rangga sibuk membuka-buka dan membaca rumus-rumus namun rumus-rumus itu hanya berputar-putar di kepalanya.
“Keluarkan kertas, beri nama, nomor, dan kelas” kata Pak Sutris.
Pak Sutris kemudian membagikan soal ulangan, setelah dua puluh menit berlalu hanya beberapa soal yang baru di jawab oleh Rangga, ia mencoba menengok ke teman sebelahnya, namun tidak ada jawaban yang dapat dilihatnya. Sampai akhirnya waktu ulangan berakhir masih banyak soal yang belum dijawabnya.

Saat istirahat seperti biasa Rangga berkumpul bersam teman-temannnya Rega dan Bima.
“Eh, kalian tadi kok enggak kasih contekan aku sih?” tanya Rangga.
“Kita tadi kan didepan, Ngga” jawab Bima.
“Mana, dilihatin Pak Sutris terus lagi” tambah Rega.
“Tapi kaliankan juga bisa nenggok kebelakang sebentar” ucak Rangga kesal.
Mereka hanya diam, mereka sebenarnya tidak suka kalau Rangga mencontek mereka terus.
               
Saat pulang Rangga di jemput oleh sopirnya, sampai di rumah dia langsung bermain game dengan laptopnya. Hingga terdengar ketukan pintun.
“Siapa sih ganggu aja” omelnya
“Saya mas Bi Minah, kata ibu suruh makan dulu” kata Bi Minah menjawab
“Iya bentar lagi” jawab Rangga
“Ya sudah” ucap Bi Minah
 Setelah ganti baju dia segera makan lalu tidur, malamnya setelah makan malam dia ke kamar untuk mengerjakan PR dan belajar , tapi baru beberapa yang dikerjakan dia sudah mengantuk,
“Hoam, mengerjakan PR memang membosankan” katanya. Diapun segera tidur.
               
Paginya seperti biasa Papanya sudah menunggu diteras, “Rangga cepat nanti kesiangan” kata Pak Bambang. ”Iya Pa, sebentar” jawab Rangga.
“Koran, Koran,” terdengar suara dari pintu gerbang.
Kali ini Pak Bambang sendiri yang mengambil koran, dia terkejut karena yang mengantar koran itu seorang anak yang seumuran dengan anaknya yang memakai pakaian sederhana, dulu dia pernah melihat yang mengantar koran adalah orang dewasa.
Anak itu menyapa dengan sopan, Pak Bambang menanyakan kenapa dia tidak sekolah ternyata dia sudah 3 bulan tidakmembayar uang sekolah, dan dia sekarang kelas delapan, namanya Kiki, prestasinyapun baik dia mendapat ranking satu.
 Tiba-tiba Rangga datang. “Ayo Pa, katanya keburu kesiangan” kata Rangga.
“Iya sebentar. Ya sudah ya Ki, bapak mau berangkat kerja dulu” kata Pak Bambang.
Di mobil Rangga bertanya siapa anak tadi, Pak Bambang menjelaskan siapa anak tadi.
               
                Hari itu hasil ulangan Fisika di bagikan. Rangga dag, dig, dug, menanti hasil ulangannya, ternyata Rangga hanya mendapat nilai 45.
Sampai di rumah Rangga dimarahin sama Papanya. Laptop dan komik-komik Rangga disita sampai nilai Rangga lebih baik. Malam itu dilalui Rangga dengan belajar namun setiap kali dia membaca buku pelajaran matanya selalu mengantuk.
               
                Paginya, Pak Bambang bertanya dengan Bi Minah sudah berapa lama pengantar Koran itu ganti, ternyata sudah dua mingguan.
Pak Bambang punya rencana untuk Kiki karena dia sopan, baik, dan pintar.
“Koran,Koran,” terdengar suara seperti biasa.
“Pagi, Pak.” sapa Kiki ramah.
“Pagi juga Kiki, Ki bapak mau tanya boleh enggak?” tanya Pak Bambang.
“Boleh, bila saya bisa menjawab.” jawabnya sopan.
“Kamu tinggal dengan siapa?” tanya Pak Bambang.
“Dengan Ibu, dan adik. Ayah saya meninggal dua tahun yang lalu” jawab Kiki.
“Kamu tinggal dimana?” tanya Pak Bambang lagi.
“Di samping jembatan Sukomangun.” jawab Kiki.
“Oh, kamu mau tidak bersekolah dengan anak saya,kalau kamu mau, kamu maukan mengajar anak saya belajar. Kalau mau nanti sore jam 4 datanglah ke rumah saya, akan saya kenalkan dengan anak saya.” kata Pak Bambang.
“Iya pak nanti saya fikir-fikirkan dulu, terimakasih ya Pak.” Jawab Kiki.
“Iya, sama-sama.” jawab Pak Bambang.
Tak berapa lama Rangga datang, mereka lalu berangkat. Di perjalanan Papa Rangga menceritakan apa yang direncanakannya mendengar itu Rangga langsung cemberut.

               
Hingga istirahat Rangga masih tidak suka dengan rencana Papanya.
“Rangga, aku pinjem komikmu yang baru ya.” tanya Rega.
“Aku dulu ya, Ngga.” kata Bima sewot.
Setelah beberapa lama mereka saling berebut, Rangga memberitahu kalau komik-komiknya disita oleh Papanya.  merekapun akhirnya diam.

                Sorenya setelah beberapa lama Papa Rangga menunggu ternyata Kiki datang juga. dia meminta maaf karena datang terlambat, karena harus menjual barang bekas ke pengempul.
Pak Bambang memanggil Rangga untuk berkenalan dengan Kiki. Setelah berkenalan mereka merencanakan sekolahnya Kiki, Kiki dapat meminjam buku-buku  Rangga.

                Esok paginya mereka berangkat bersama-sama, Rangga masih tidak suka dengan Kiki. namun Kiki mencoba tetap ramah seperti biasa. Hingga pelajaran dimulai Kiki sekelas dengan Rangga. Baru satu hari saja banyak anak-anak dikelas Rangga yang suka dengan Kiki, banyak anak yang bilang kalau Kiki itu baik, ramah, pintar.

                Sorenya setelah istirahat, Kiki datang lagi kerumahnya membawa buku-buku pelajar untuk besok. Mereka belajar bersama Kiki mengajari semua pelajaran layaknya seperti guru, sebenarnya Rangga senang dengan cara Kiki menerangkan, tapi dia masih sebal dengan Kiki. Setelah berhari-hari mereka saling bertemu Papa Rangga malah sering memperhatikan Kiki, Rangga menjadi tidak senang. hingga akhirnya pada suatu hari dia memberikan obat sakit perut ke minuman Kiki. Dia meminta izin pulang pada Pak Bambang, Papa Rangga menyuruh Rangga untuk mengantarkan Kiki bersama Pak sopir.

                Kiki meminta maaf karena mereka tidak bisa belajar bersama, dan membuat Kiki pergi ke tempat kumuh seperti rumahnya. Sampai dirumah Rangga merasa bersalah setelah melihat keadaan ekonomi Kiki, dia bertekad akan meminta maaf atas perbuatannya yang telah dia lakukan selama ini.

                Paginya sebelum berangkat dia bangun pagi-pagi, dan berangkat agak pagi agar tidak berangkat bersama Papanya, dia ingin berangkat bersama Kiki.
“Ki, aku mau minta maaf kalau selama ini aku sering jahat sama kamu, terus aku mau bilang kalau yang ngasih obat sakit perut kemarin aku.” ucap Rangga.
“Enggak apa-apa aku sudah maafin kamu kok, aku malah mau bilang makasih karena udah minjemin aku buku pelajaran” jawab Kiki
“Aku juga mau bilang makasih karena udah mau ngajarin aku” jawab Rangga.
Rangga sering berfikir mengapa aku yang tersedia semua fasilitanyas malas-malasan, padahal di luar sana masih banyak orang yang ingin tapi terbatas fasilitasnya.
Akhirnya mereka menjadi sahabat, dan Rangga sudah tidak malas lagi dan prestasinya meningkat. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Girl in the Rain Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos