Minggu, 21 Oktober 2012

Penyesalan

Diposting oleh Girl in the Rain di 08.02

Hari Senin merupakan salah satu hari yang menyebalkan bagi sebagian siswa, salah satu darinya adalah Totok siswa SMP Cakrawala. Dia memang terkenal paling bandel dan tukang mbolos.
            Seperti hari ini semua siswa SMP Cakrawala sudah mulai berbaris rapi, para petugaspun sudah mulai bersiap. Masing-masing ketua kelaspun mulai merapikan barisannya.
“Kurang satu, siapa yang enggak masuk?” tanya Rahmi ketua kelas 8b.
 “Alah, paling Totok. Biasalah mbolos.” celetuk Ipul.
Rahmipun bergegas untuk mencari Totok, namun upacara akan segera dimulai Rahmipun tidak sempat mencari Totok.
Dilain tempat, di warung Mbah Jum. Totok duduk santai dengan menikmati es tehnya. Hampir semua siswa SMP Cakrawala tidak suka dengannya, hanya Diko dan Erlangga yang mau berteman dengan Totok.
“Mbah tambah es jeruknya satu. Panas-panas gini mah enaknya minum es, ngapain juga ikut panas-panasan upacara.” kata Totok
“Halah, kamu itu enggak takut apa di marahin.” jawab Mbah Jum sambil menyodorkan es jeruk.
Totok hanya diam, sambil menyeruput es jeruknya.
                                                                        ***
Setelah upacara selesai, seperti biasa masih ada jam kosong 1 jam, bagi anak-anak malas daripada nongkrong di kelas mereka biasa jajan ke kantin. Si Totok pun tak segera masuk ke kelas dia malah malas-malasan di warung Mbah Jum, Diko dan Erlangga akhirnya menghampiri Totok.
“Mbolos upacara lagi lo? Dicariin lho lo tadi sama Sabtini.” Kata Diko yang disambut dengan gelak tawa Erlangga.
“Apaan lo? Ketawa lagi? Alah ngga takut gue sama Sabtini si ketua kelas itu.” Sahut Totok membentak Erlangga dan Diko.
Saat itu Rahmi lewat di dekat mereka Rahmi yang merasa namanya disebut-sebut menghampiri mereka.
            “Eh, Tok lo tadi kenapa enggak ikut upacara lagi? Mau alesan aneh-aneh lagi lo?” kata Rahmi yang sudah terlanjur kesal dengan Totok.
            “Apaan sih lo? Gue itu males banget tau kalo di suruh berdiri panas-panasan kek gitu, mendingan juga gue di kantin minum es jeruk.” kata Totok sekenanya.
            “Alah lo ngeles mulu. Liat noh sama seksi rekapitulasi, point pelanggaran tata tertib lo tu udah banyak banget! Enggak takut apa kalo nanti di panggil sama guru BK.” kata Rahmi kesal.
Dimarah-marahin abis-abisan kek gitu sama Rahmi eh, malahan si Totok ngeluyur pergi. Erlangga dan Diko pun mengikuti Totok, mereka berdua memang selalu membuntuti kemanapun Totok pergi
                                                                        ***
Kelas 8b, kelas yang pernah di juluki oleh guru-guru kelas teramai tetapi juga kelasnya anak-anak pinter setelah ada seorang murid yang bernama Rama yang telah menjuarai juara 3 olimpiade matematika tingkat provinsi. Jika di urutkan dari semua kelas delapan sih 8b merupakan salah satu kelas terbaik setelah kelas 8a. (Eh kok malah nyeritain kelas)
            Jam antar waktu ganti pelajaran seperti biasa dimanfaatin buat ngobrol dan jail, jadi gaduh banget deh ni kelas (Nah ini ni yang paling terkenal di kalangan kelas delapan dan para guru). Si Rahmipun kewalahan mengatur anak-anak kelas itu untuk sedikit memelankan suara mereka. Tak lain lagi bagi Totok dan kawan-kawannya kali ini yang mendapat sasaran kejahilan mereka adalah Soni, anak yang bertubuh tinggi, memakai kaca mata dan yeah.. sedit culun kalo diliat-liat dari penampilannya.
            “Er, nih tangkep.” kata Totok sambil melempar buku sastra milik Soni kepada Erlangga.
            “Aduh, jangan dong itu bukan milik gue. Itu tu pinjeman dari kakak gue.” kata Soni memohon kepada Totok sambil berusaha menangkap buku itu.
            “Duh, kesian anak mami nanti nangis.” kata Diko sambil memasang wajah memelasnya.
Tiba-tiba Rahmi datang.
            “Kalian bisa nggak sih sekali-sekali enggak usah cari gara-gara? Kesian tau orang yang kalian kerjain. Emang mereka punya salah apa sama lo?” kata Rahmi membentak Totok dan kawan-kawannya.
            “Aduh, elo tu enggak usah ikut campur deh sama urusan kita.” jawab Totok
            “Eh, jelas ini urusan gue dong! Di sini gue ketua kelas, gue yang bertanggung jawab di sini!” jawab Rahmi kesel (Pakai banget malahan)
Tiba-tiba Fafa dan Aan yang sering di panggil dengan sebutan Upin, Ipin yang doyan kelayapan keluar kelas kalo jam kosong itu berlari kedalam kelas. Dan memberitahu bahwa Bu Endang wali kelas mereka datang menuju kelas 8b. Semua pasukan eh maksudnya murid kelas 8b pun segera bergegas melarikan diri ketempat duduk masing-masing.
            Gak lama kemudian. Kreeeek... Bunyi pintu kelas yang dibuka (enggak gitu juga sih sebenernya). Kali ini memang bukan pelajaran Bahasa Jawa yang di ajarkan oleh Bu Endang. Tapi pelajaran Biologi yang kebetulan Bu Nur sedang sakit, banyak tugas yang di berikan tapi ya dasar murid-murid kelas 8b malas-malas jadi enggak banyak yang ngerjain malah pada keluyuran.
            “Kali ini ibu tidak akan mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa di sini. Ibu akan memberikan Pengarahan pada kalian. Sekarang saya mau cerita, kemarin waktu ibu mengajar di kelas 8c saya mendapat informasi dari 2 orang siswa bahwa ada murid kelas 8b yang meminjam jam tangan mereka dan tidak mengembalikannya. Dan hal itu terulang lagi di kelas 8e. Tadi ada salah satu murid yang melapor kepada saya bahwa orang yang sama dengan kejadian di kelas 8c tadi juga meminjam topinya dan tidak mengembalikannya. Apakah kalian tidak malu denagn hal seperti ini?” cerita Bu Endang panjang lebar.
Semua murid hanya menunduk diam tidak ada yang berani berkata apa-apa.
Bu Endang melanjutkan kata-katanya lagi.
            “Di sini saya tidak akan menyebutkan nama anak itu. Tapi dari peristiwa ini apa kalian tidak malu dengan kelas yang lain, apa lagi kalau sampai guru-guru yang lain tau tentang kejadian ini.”
Sebenarnya semua murid telah menebak siapa anak itu, ya si Totok dan kawan-kawannya siapa lagi kalau bukan mereka? Semua murid telah mengakui kejailan anak-anak itu. Tapi mereka tidak berani untuk mengatakan itu.
            “Yasudah cuman itu yang akan Ibu katakan, bagi orang yg merasa jangan diulangi lagi dan untuk kalian yang bukan, jangan pernah untuk coba-coba untuk melakukan kejailan seperti itu!” kata Bu Endang kemudian pergi meninggalkan kelas.
Tiba-tiba kelaspun menjadi banyak suara bisik-bisik, dan banyak anak yg memandangi Totok.Totok yang merasa dirinya dibicarakan, segera keluar kelas karena merasa tidak enak.
 Dan ketika melewati ruang guru dia dipanggil oleh Bu Endang. Banyak yang dibicarakan oleh Bu Endang. Beliau tidak marah kepada Totok hanya saja beliau kecewa dengan perlakuannya. Bu Endang banyak menasihati Totok.
***
Dilain tempat dikelas 8b. Rahmi mendekati Erlangga dan Diko, dia duduk didepan mereka. Erlangga dan Diko bingung. Sebelumnya Erlangga dan Diko memang anak yang baik. Tapi sejak bergaul akrab dengan Totok, keduanya berubah menjadi jail.
“Kalian takut pada Totok ya?” kata Rahmi memulai berbicara
“Ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba tanya kayak gini?” kata Diko
“Enggak apa-apa kok santai aja kali. aku tidak akan bilang pada Totok kok.” jawab Rahmi
“Emm, iya. Takut sekali malah.” jawab Erlangga duluan
“Aku juga, kamu kan tahu sendiri kalo dulu Totok sering meminta uang kepada ku.”
 jawab Diko kemudian.
“ Dan kalian malah memanfaatkannya untuk meminta perlindungan Totok?”
tanya Rahmi selanjutnya.
            “Terpaksa.” jawan Diko mewakili.
            “Kenapa emang?”
            “Ya, karena teman-teman yang lain membenci kita karena kita dekat dengan Totok.” jawab Erlangga.
            “Tapi kalau kalian merubah cara bersahabat kalian, kalian tidak perlu takut pada Totok. Cara kalian bersahabat dengan Totok itu salah.”  kata Rahmi menasehati.
“Oke kita akan coba.” jawab Erlangga memandang Diko yang menyambut dengan tersenyum.
***
            Keesokan harinya di kelas 8b. Ketika Totok melihat Erlangga dan Diko muncul bersama Rahmi. Totok langsung menarik kerah baju mereka. Mereka memekik ketakutan.
            “Jangan, Tok.” kata Rahmi
            “Rahmi! Kaulah satu-satunya anak di kelas yang berani kepadaku! Dan sekarang aku tidak akan segan-segan kepadamu.” jawab Totok marah.
            “Silahkan saja jika kau mau memukulku, asalkan kau mau menghentikan perbuatanmu pada yang lainnya!”
            “ Jangan main-main kau, Rahmi!” kata Totok geram.
Totok sudah siap mengepalkan tinjunya. Namun tiba-tiba seorang guru BK datang menghampiri Totok dan Rahmi. Mereka digelandang(kayak pemain sepak bola aja ya) menuju ruang BK.
Sesudah mereka di introgasi, Bu Sri memutuskan bahwa dalam kejadan itu Totok yang bersalah. Rahmi pun di suruh untuk keluar karena urusannya sudah selesai.
Bu Sri bergegas menghampiri Totok, dia menasehati Totok panjang lebar. Dan akhirnya Bu Sri menelepon orang tua Totok, untuk membicarakan perlakuan Totok di sekolah.
Totok memang bukanlah anak yang bandel di rumah, bahkan dia sangat penurut dengan ibunya, ia sering membantu ibunya mengantarkan makanan dagangan ibunya.  Ayah Totok sudah meninggal setahun yang lalu sehingga dia hanya bersama Ibu, kakak, dan adiknya.
***
            Totok berjalan lesu menuju rumah, kali ini tak ada niat untuknya memalak uang jajan anak-anak. Setibanya dirumah Totok.
“Kemarilah, ibu mau bicara.” kata ibu Totok
Hati-hati ia mendekati ibunya ia sangat gelisah, ibunya pasti sangat kecewa dengannya. Segala penyasalan kini menghantuinya.
            “Sekarang ibu tahu bagaimana kelakuan mu di sekolah yang nakal, mereka memang takut kepadamu karena kamu galak kepadanya. Tapi mungkin dibelakangmu mereka tidak seperti itu. Mereka pasti banyak yang membencimukan?” kata Ibu Totok dengan nada tegas tapi tetap dengan lembut.
            “Saya menyasal Bu.”
            “Syukurlah kamu menyesali semua perbuatanmu kepada teman-temanmu. Ibu ingin kamu mengubah sikapmu yang nakal itu.”
            “Pasti Bu, saya tidak akan nakal dan membenci teman-teman lagi. Dan saya akan meminta maaf pada mereka.”
Dirangkulnya ibunya itu, ia merasa sangat bersalah kepada ibunya. Ia merasa telah mempermalukan ibunya dengan sikapnya selama ini.
            “Maafkan Totok bu, telah membuat ibu sedih dengan sikap Totok.” kata Totok yang tak disadarinya telah meneteskan air mata dipipinya.
            “Tak apa, asalkan kamu mau merubah sikapmu dan meminta maaf kepada teman-temanmu Ibu sudah merasa bahagia.” kata ibu.
            “Terimakasih bu.” kata Totok berlinangan air mata.
***
Paginya dengan langkah pasti Totok berjalan menuju kesekolah, ia sangat tidak sabar untuk meminta maaf kepada teman-temannya. Sesampainya di kelas semua anak memandang kearah Totok. Erlangga dan Diko tidak berani untuk melihatnya, mereka masih sangat takut dengan kejadian kemarin itu. Sebenarnya tadi sebelum masuk ke kelas dia sudah bertemu dengan Rahmi di kantin, ia meminta tolong kepada Rahmi untuk membantunya meminta maaf kepada teman-teman kelasnya.
5 menit sebelum bel masuk Rahmi tiba-tiba maju kedepan kelas.
            “Perhatian. Disini saya minta waktunya sebentar, saya akan memyampaikan bahwa ada seseorang yang akan berbicara dengan kalian. Silahkan Totok” kata Rahmi mempersilahkan.
Semua kelas gaduh dengan bisik-bisik mendengar Totok dipanggil.
            “Ehm, disina saya akan meminta maaf dengan kalian semua, kalau selama ini saya sering membuat kalian kesal, benci, marah dengan saya. Saya menyesal, saya bener-bener merasa bodoh dengan semua yang telah saya perbuat selama ini. Maukah kalian memamaafkan saya? Setidak kalian juga mau membantu saya untuk berubah?” kata Totok sambil mengulas senyum dibibir nya.
Setelah Totok bersalaman dengan semua teman kelasnya yang dengan senang hati menyambut permintaan maaf Totok, ia melanjutkan untuk meminta maaf kepada teman-teman lainnya.
Saat jam istirahat berbunyi.
“Hei! Er, Ko. Bentar tunggu aku.” kata Totok berlari menghampiri mereka.
            “Oh, eh. Lo Tok kirain siapa.” kata Erlangga sekenanya
            “Kenapa sih kalian? Oh iya gue mau minta maaf banget sama kalian kalau selama ini kalian merasa dipaksa sama gue. Sama gue juga mau minta maaf kalau kalian merasa terpaksa bersahabat dengan gue.” kata Totok.
            “Enggak kok, kita dulu cuma enggak suka cara lo merlakukan kita sebagai sahabat seperti itu.” jawab Diko.
            “Dan sekarang kita sahabatan lagi kan? Gue janji kok enggak akan seperti dulu lagi.” tanya Totok.
            “Tentu, kita akan sahabatan lagi sma lo, asal lo janji gak akan balik seperti dulu lagi. Ya gak Er?” kata Diko
            “Yoi bro.” jawab Erlangga.
Merekapun kembali bersahabat dan semua kembali seperti semula.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Girl in the Rain Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos